FIQH PERBANKAN SYARIAH

Pengantar Fiqh Muamalat dan Aplikasinya dalam Ekonomi Modern

Dr. Yusuf Al Subaily

Qabdh (Penerimaan Barang)

A. Konsekwensi Qabdh

Ada dua hal yang merupakan konsekwensi qabdh :

1.Kewenangan menggunakan barang seperti: menjualnya kembali. Dan tidak sah seseorang yang membeli barang kemudian dia jual kembali sebelum terjadi qabdh atas barang tersebut.

Berdasarkan sabda nabi :

Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa nabi bersabda, “barang siapa membeli makanan maka jangan dijual sebelum terjadi serah terima barang” (HR. Bukhari- Muslim).

Diriwayatkan dari Hakim bin Hizam, ia berkata, ” aku bertanya kepada rasulullah, jual-beli apakah yang diharamkan dan yang dihalalkan? Beliau bersabda,” hai keponakanku! Bila engkau membeli barang jangan dijual sebelum terjadi serah terima”. HR. Ahmad.

Hikmah akad ini diharamkan, karena pihak penjual masih mengusai barang yang dijual, manakala dia tahu pembeli meraup keuntungan yang besar dari penjualan barang tersebut ke pihak lain, kemungkinan dia enggan menyerahkannya. Hal ini sering menyebabkan sengketa antara tiga pihak. Dan islam sangat menjaga untuk tidak terjadinya permusuhan dan kebencian sesama pemeluknya.

2. Tanggungjawab barang berpindah dari pihak penjual kepada pembeli. Jikalau barang lenyap setelah terjadi jual beli dan sebelum terjadi qabdh maka barang berada dalam tanggungan pihak penjual karena barang masih dalam garansinya, kecuali sebab lenyapnya oleh si pembeli. Dikecualikan dari kaidah di atas bilamana penjual bermaksud menyerahkan barang kepada pembeli, tetapi pembeli mengulur waktu sehingga barang lenyap. Maka garansi ditanggung pembeli, karena kelalaiannya.

B. Cara Qabdh

Penentuan cara qabdh merujuk kepada kebiasaan yang berlaku, caranya berbeda berdasarkan jenis barang, misalnya :

  1. Qabdh properti seperti rumah dan tanah dengan cara memberi peluang kepada pembeli untuk menempatinya.
  2. Qabdh makanan, pakaian dan perkakas dengan cara memindahkannya dari tempat semula.
  3. Qabdh emas, perak dan permata dengan cara mengambilnya dengan tangan.
  4. Qabdh uang dengan cara memegangnya dengan tangan atau dibukukan dalam rekening bank.
  5. Qabdh mobil dengan cara membawanya keluar dari tempat semula atau dengan cara menerima dokumen yang telah tercantum nama pembeli.

Dan begitu seterusnya, Qabdh setiap barang merujuk kepada kebiasaan yang berlaku.

Dari penjelasan di atas telah kita ketahui bahwa akad jual beli yang sah akan berdampak beralihnya kepemilikan barang dari penjual kepada pembeli, kepemilikan beralih dikarenakan akad, sekalipun belum terjadi Qabdh.

Misalnya: penjual berkata, “Aku jual mobilku kepadamu dengan harga 50 juta rupiah”, pembeli berkata, “Saya terima”. Dengan kata-kata tersebut kepemilikan barang telah berpindah dari penjual kepada pembeli walaupun surat balik nama belum keluar. Apabila surat balik nama telah keluar saat itu dikatakan kepemilikan mobil telah berpindah dan telah terjadi qabdh. Dengan demikian, qabdh berarti pihak pembeli telah dapat menggunakan barang tersebut, dan qabdh lebih dari sekedar peralihan kepemilikan.

disadur dari WAG Halaqoh Wirausaha

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *