“Mas sy orangnya [nasabah] mau ambil kain,, disana ada tukang angkutnya nggak”.. tanya anak buah nasabah saya pas mau kekantor,,.. Ini proses yang dijalani Asy-syirkah untuk menyempurnakan transaksi jual-beli Al-Murabahah,, barang yang diperjualbelikan benar” dimiliki dengan sempurna, berpindah dari supplier ke Asy-syirkah.

Sebagaimana Rasulullah shalallahu alaihi wa salam mengajarkan tentang cara bertransaksi jual beli yang benar.

Diriwayatkan dari Hakim bin Hizam, beliau mengatakan, “Wahai Rasulullah, saya sering jual-beli, apa jual-beli yang halal dan haram? Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Wahai anak saudaraku, bila engkau membeli sebuah barang jangan dijual sebelum barang tersebut engkau terima“ (HR. Ahmad dan dihasankan Imam Nawawi). Hadis ini menjelaskan, haram hukumnya menjual barang yang telah dibeli namun fisik barangnya belum diterima

Juga diriwayatkan Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang menjual bahan makanan yang telah dibelinya sebelum ia menerimanya. Seseorang bertanya kepada Ibnu Abbas, ‘Kenapa dilarang? Ibnu Abbas menjawab, ‘Karena dirham ditukar dengan dirham sedangkan bahan makanan ditangguhkan’” (HR. Bukhari).


Hadis tersebut jelas melarang menjual barang yang telah dibeli namun fisiknya belum diterima. Ibnu Abbas menjelaskan alasan pelarangan jual-beli itu sama dengan riba bai’ (jual-beli). Hal ini karena saat pihak pertama membeli barang dari penjual 100 dirham kemudian dijual kembali ke pihak kedua 120 dirham, sama dengan menukar 100 dirham dengan 120 dirham (ini dinamakan riba ba’i), sementara barang yang menjadi objek akad tetap di tangan penjual


Demikian pula sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidak halal menggabungkan antara akad pinjaman dan jual-beli. Tidak halal dua persyaratan dalam jual-beli. Tidak halal keuntungan penjualan barang yang tidak dalam jaminanmu dan tidak halal menjual barang yang bukan milikmu” (HR. Abu Daud. Al-Albani menyatakan, hadis ini hasan shahih).

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidak halal keuntungan penjualan barang yang tidak dalam jaminanmu“, artinya, tidak halal memperoleh keuntungan dari penjualan barang yang telah dibeli, namun fisiknya belum diterima. Karena ketika barang itu belum diterima, maka jaminan barang tersebut berada dalam tanggungan penjual pertama.

Dengan cara ini akan terlihat jelas perbedaan dari transaksi Syariah,, secara fitrah akan dikatakan bahwa inilah jual beli yang sebenarnya. Wabillahit taufiq

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *