Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh,

“Apabila suatu perkara diserahkan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah kehancurannya” (HR. Bukhari, diriwayatkan oleh Abu Hurairah).

Mengambil ibrah dari hadits ini…

Ternyata Nabi kita shallallaahu ‘alaihi wassallam sudah mengajarkan teori dan sekaligus praktik manajemen modern sejak 15 abad yang lalu.

Dari hadits itu, Nabi telah mengajarkan berbagai macam cakupan manajemen : manajemen organisasi, manajemen kepemimpinan, manajemen produksi, dll, termasuk manajemen risiko.

Melalui tulisan pendek ini, saya mencoba mengupas sedikit tentang manajemen risiko.

Sering orang hanya memandang risiko adalah sesuatu yang harus dihindari. Padahal di setiap tindakan kita, disadari atau tidak, sudah menghadapi risiko.

Beberapa waktu lalu saat kembali mengajar kuliah Manajemen Risiko di salah satu perguruan tinggi di Jakarta, saya bertanya kepada mahasiswa saya perihal kesehariannya. Salah satu mahasiswa yang mengendarai motor ke kampus, mengakui tidak mengecek kondisi tekanan angin ban motornya. Saya sampaikan, bahwa dia sudah menghadapi risiko tinggi terkait dengan keselamatan jiwanya. Tetapi apakah dia akan celaka di jalan karena tidak mengecek tekanan ban tersebut? Belum tentu juga.. Wallaahu a’lam.

Senada dengan itu adalah betapa banyak kita lihat dengan mata telanjang, para pemotor yang ngebut, tidak menggunakan helm, mengendarai motornya dengan tidak menyalakan lampu di malam hari, dll.

Orang keluar rumah berangkat mencari nafkah, akan menghadapi sekian potensi risiko. Berjalan kaki di trotor, tak lepas dari risiko. Bangun tidur turun dari ranjang pun menghadapi risiko.

Apalagi berbisnis. Di perbankan/ lembaga pembiayaan, ketika akan memberikan pembiayaan, pasti akan berhitung risikonya.

So, stressing-nya adalah risiko selalu ada, dan bagaimana kita menghadapi risiko itu.

 

Apa itu Risiko?

Banyak definisi tentang itu.. silakan dibaca dari berbagai pustaka atau teori tentang Manajemen Risiko.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesai (KBBI), risiko berarti akibat yang kurang menyenangkan (merugikan, membahayakan) dari suatu perbuatan atau tindakan.

Tetapi, secara praktis dan agar mudah dipahami, pengertian risiko adalah potensi terjadinya suatu peristiwa (kejadian) lain yang cenderung bersifat merugikan yang mengiringi aktivitas kita.

Mengapa disebut potensi? Karena peristiwa atau kejadian yang menjadi risiko itu belum tentu terjadi.

Mengapa disebut cenderung merugikan? Ya karena jika terjadi, peristiwa atau kejadian itu cenderung mengharuskan kita mengeluarkan ekstra likuiditas/ biaya/ beban, waktu, energi, dll dan bahkan bisa jadi jika diakumulasi jumlahnya tidak sedikit.

Jadi, ini tidak melulu urusan fulus secara langsung.

Tetapi benarkah tidak selalu merugikan. Adakah?

Masih ingat sekitar 2 dasawarsa lalu saat negeri kita tercinta dilanda krismon? Mereka yang di dompetnya, brankas, atau pundi-pundi rekening bank-nya masih bejibun dengan cadangan valuta asing khususnya dollar Amerika, jika saat itu mau menukarnya untuk satu keperluan, akan mendapatkan banyak gain karena kurs dollar yang terus meroket dari sekitar IDR 6.000 menjadi lebih dari IDR. 17.000 per USD. Ini kondisi riil saat itu.

Padahal menyimpan valas juga mempunyai potensi risiko (kurs). Sementara di sisi lain jika mempunyai hutang valas saat itu, risiko, bahkan sudah disebut sebagai kerugian¸ menjadi jauh bertumpuk. Akibat selisih kurs yang sangat tinggi yang dihadapi oleh dunia usaha, banyak yang akhirnya divonis bangkrut.

Maka kesimpulannya, secara garis besar risiko mempunyai sifat-sifat a.l. :

  1. Terjadinya nanti/ yang akan datang.
  2. Belum pasti terjadi.
  3. (Tidak)/ Dapat diprediksi
  4. Cenderung merugikan
  5. Terjadi pemindahan alokasi sebagian sumberdaya yang dimiliki (waktu, uang, dll).
  6. Terjadi kendala di organisasinya.

Nah, dengan sifat-sifat seperti itu, tidak terlalu salah memang jika sebagian terbesar manusia akan menghindari risiko yang akan menghadang di setiap aktivitasnya.

Tetapi haruskah dihindari? Atau bagaimana menghindarinya?

Ikuti terus… InsyaAllaah di seri mendatang…

 

Baarakallaahu fiina jami’a.

Wassalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh,

(BSA)

 

penulis : Budi Satoto (komisaris beberapa BPRS, pengusaha muslim bidang logistik, dan dosen di beberapa perguruan tinggi)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *