Melayani dengan Hati, sudahkah?
Pagi hari sebelum bekerja saya berkata kepada istri bahwa saya akan mencoba berobat (karena sudah dua hari ini badan selalu demam) ke RS A rumah sakit ternama yang baru buka cabang di daerah Tangerang Selatan. Saya mendaftar ke RS tersebut pada jam 11.30, setelah mengisi formulir yang lumayan panjang saya mendapat kartu berobat dan diinfomasikan akan dapat layanan sebagai pasien ke-4 pada jam 13.00 di poliklinik umum. Sampai di poliklinik saya dilayani perawat dengan baik dengan pengukuran fisik yaitu berat, tinggi dan suhu badan. Suhu saya sdh sampai 39.4C dan saya sdh mulai demam. Dengan bersabar sy tunggu di depan poliklinik. Jam menunjukkan jam 13.00, perawat menyampaikan pasien lain sdh tdk ada tetapi dokter sedang istirahat. Say diminta untuk menunggu dan saya masih bersabar menunggu semoga Dokter yang akan memeriksa segera datang. Jam menunjukkan angka 13.39, karena merasa tubuh tambah demam maka saya sampaikan ke Perawat saya mau pindah ke dr spesialis penyakit dalam yg ada, namun sayang jawabannya sama Dokter juga sedang istirahat. Maka saya sampaikan ke perawat untuk pindah ke RS lain. Perawat2 yg ada di sana hanya berdiam diri tanpa reaksi apapun. Segera saya menuju RS B yg tidak jauh dari tempat pertama. Begitu masuk RS B dan mendaftar saya sampaikan bahwa saya demam, maka dengan sigap Perawat langsung melayani dan membawa sy ke UGD dan hanya ditanya tanggal lahir saja, dokter datang dan langsung mengatakan apa-apa yang akan dilakukannya, saya menyetujui. Tidak terasa 1 jam saya tertidur di UGD dan dengan lembut membangunkan saya dan info *”Bapak sdh bisa pulang tapi jika masih mau istirahat dipersilahkan”*. Saya memilih tidur lagi sekitar 1 jam karena masih merasa lemah. Terbangun kembali lumayan sudah segar dan saya memutuskan pulang ke rumah setelah mengambil obat dan membayar semua biaya berobat hari ini. Selama diperjalanan saya mengingat-mengingat kejadian yang baru saya alami.

Dari cerita ini kita melihat bahwa ternyata pelayanan yg prima menjadi sangat penting saat ini. Tingkat kompetisi yang sangat ketat menyebabkan pelaku bisnis harus memperhatikan hal ini dengan detail. Nama besar, brand bagus dan promosi yang gencar belum menjamin layanan yg diberikan bisa memuaskan pelanggan. Yang ada pelanggan merasa di”dzalimi” dan jika saya ditanya bagaimana RS baru tersebut bisa dipastikan saya tidak merekomendasikan bahkan bisa jadi memberi cap negatif. Layanan prima sudah menjadi SOP di banyak perusahaan, bahkan dilakukan training yang berulang2 dan menjadi agenda rutin training soft skill dari bagian HR. Bahkan banyak perusahaan dengan tagline “Melayani dengan Hati” dan sejenisnya, Tapi kenapa masih ada kejadian2 dimana customer didzalimi dalam tanda kutip? Jawaban bisa beragam, namun yg kita sering lihat adalah layanan prima belum menjadi budaya dari diri kita sebagai individu dalam organisasi dalam memberikan yang terbaik. Melayani dengan prima belum tertanam dalam hati, dan belum menjadi darah yang mengalir dari kita.

Nabi kita Muhammad saw yang mulia bisa menjadi teladan dalam hal ini. Beliau  memposisikan dirinya sebagai khadimah ummah (pelayan ummat), yang lantas membuatnya begitu dicintai oleh keluarganya, para sahabatnya hingga dirindukan oleh ummatnya sampai akhir zaman nanti. Dalam beberapa informasi  juga disebutkan bagaimana Nabi Muhammad saw pada zaman ketika masih menjadi pengusaha dan berdagang ke negeri Syam, sangat prima melayani pelanggannya. Menyusun display barang yg dijual disusun dengan rapi dan menarik serta melayani pembeli sampai puas dan tuntas. Tidak heran, Beliau menjadi pengusaha yang sukses.

Pendek kata, yang semestinya ada dan selalu ditanamkan dalam setiap diri kita ialah keyakinan akan kebenaran sinyal Allah swt sebagaimana termaktub dalam firman-Nya surah ar-Rahman ayat 60,

هَلْ جَزَآءُ الْاِحْسَانِ اِلَّا  الْاِحْسَانُ
“Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula).”
Serta garansi Rasulullah saw dalam salah satu sabdanya sebagai berikut, Allah swt akan memberikan kemudahan urusan kepada orang yang membantu memudahkan urusan orang lain” (Hadits Qudsi).
Atau pada hadits lainnya, “Allah swt akan melapangkan jalan bagi orang yang memberi kelapangan kepada orang yang sedang mengalami kesempitan hidup.”*.
Dan tentunya hal–hal yang semakna dan seperti ini akan kita temukan juga pada banyak ayat Allah swt serta hadist shahih lainnya. Semestinya kita sebagai muslim mulai merepakan prinsip-prinsip manajemen seperti layanan prima sebagai urat nadi pekerjaan kita, sudah jadi mental bekerja karena nash-nash dalam keyakinan kita membimbing kita untuk bekerja secara prima.

Sebelum menutup tulisan ini, sedikit meneruskan cerita diawal tulisan. Dua hari setelah kejadian itu telpon saya berdering dari nomor lokal yg tidak saya kenal. Karena sedang senggang saya angkat telpon tadi dan yg membuat saya surprise ternyata telpon tersebut datang dari RS B yang saya kunjungi dimana saya ditangani waktu itu. Penelpon menanyakan bagaimana kondisi saya sekarang sudah sehat atau belum dan menanyakan bagaimana layanan kemarin puas atau tidak. Saya pikir luar biasa, RS B ini telah menerapkan ilmu layanan prima dengan baik dan memuaskan. Hal2 kecil yg dilakukan ini tentunya diatas ekspektasi dari pelanggan.

Dari cerita diatas Anda bisa membedakan kedua Rumah Sakit tersebut dan tentu bisa menjawab siapa yang akan memenangkan persaingan … selamat beraktivitas.

Wassalamualaikum

Abu Thoriq
penulis : Endang Suteja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *