FRACTIONAL RESERVE DALAM PERBANKAN: BERAWAL DARI KETAMAKAN

Penulis : Ust. Ardiansyah Rakhmadi

Pada awal mulanya di masa Romawi dan Yunani Kuno, sistem perbankan yang berlaku adalah sistem titipan. Artinya, Bank tidak pernah menyalurkan dana nasabah yang disimpan di Bank. Sehingga kapanpun nasabah menghendaki, maka dengan mudah nasabah dapat mengambil dananya. Demikian pula bagi bank. Bank sama sekali tidak terpapar risiko likuiditas, karena bank tidak menyalurkan dana nasabah penabung. Sistem seperti ini, dikenal dengan istilah full reserve system atau sistem pencadangan penuh.

Jesus Huerta De Soto dalam bukunya Money, Bank Credit and Economic Cycles, mengutip sebuah dokumen kuno yang menyebutkan bahwa pada masa Yunani dan Romawi kuno, tindakan menyalurkan dana tabungan nasabah oleh bank adalah tindakan yang ilegal yang dikategorikan sebagai perbuatan fraud dan pelakunya mendapatkan hukuman dari pengadilan.

Motif apa (pada masa Yunani & Romawi kuno) yang membuat bank menyalurkan dana tabungan nasabahnya? Mengutip pernyataan De Soto dalam bukunya, jawabannya adalah karena rasa tamak. Saat itu, Bank melihat bahwa ternyata dana yang ditabung oleh para nasabahnya begitu banyak dan tidak setiap hari para nasabah tersebut mengambil uang mereka. Kalaupun ada yang ditarik, jumlah jumlahnya tidak besar. Akhirnya karena tergiur untung  yang besar, secara diam-diam bank menggunakan dana tabungan  nasabah untuk dipinjamkan kepada orang lain dengan sistem bunga. Untuk mengamankan sisi  likuiditasnya, bank  hanya menggunakan/ meminjamkan sebagian dari dana tabungan nasabahnya. Sebagian yang lain digunakan sebagai cadangan apabila ada nasabah yang akan mengambil dananya.

Singkat cerita, perbuatan yang dulunnya ilegal bahkan dikategorikan sebagai perbuatan fraud oleh pengadillan di masa Yunani dan Romawi kuno, akhirnya kemudian dilegalkan. Sejak saat itulah sistem full reserve yang awalnya berlaku dalam perbankan berubah menjadi sistem fractional reserve atau sistem dengan pencadangan sebagian. Di Indonesia, pemberlakuan sistem fractional reserve, ditandai dengan adanya kebijakan GWM (Giro Wajib Minimum).

GWM adalah simpanan minimum (rupiah/valas) yang wajib dipelihara oleh bank dalam rekening giro di BI yang besarannya ditetapkan dalam rasio terhadap dana pihak ketiga (DPK). Besaran GWM pada November 2015 adalah rupiah 8,0% dan valas 8,0% (wartaekonomi, 2015).

Apa dampak dari penerapan fractional reserve dalam sistem perbankan? Bersambung…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *